Apakah Gresik bisa menuju Konteks KERAKYATAN, KEMARTABATAN DAN KESALEHAN

Mardi Basuki 
yang jadi pertanyaan????.... apakah Gresik bisa menuju konteks KERAKYATAN, KEMARTABATAN DAN KESALEHAN........ saya merasa pesimis, selama pemimpin tutup mata dan tutup telinga dan hanya melihat dan mendengar dirinya sendiri dan kelompoknya....... contoh: Pertama, Gresik kota industri, sebanyak 1600 pabrik berdiri di Gresik tapi pengangguran malah meningkat, sebanyak 150 ribu masyarakat gresik menganggur, dari angka tersebut alasannya SDMnya kurang mumpuni, makanya mereka enggan merekrutnya. suatu alasan yang tidak bisa memberikan solusinya, kenapa hal ini bisa terjadi ?????. walaupun ada aturan yang mengharuskan setiap perusahaan harus memprioritaskan warga sekitarnya, tapi itu semua tidak bisa terakomodasi dengan baik karena SDMnya kurang mumpuni. Kalau uda tau gitu kenapa tidak diadakannya pelatihan-pelatihan yang menciptakan manusia yang siap dengan segala bidang untuk menyongsong Gresik kota industri. dari sini aja sudah tidak bisa yang namanya Gresik menuju konteks KERAKYATAN. Kedua, Karena masalah SDMnya kebanyak masyarakat Gresik menjadi kuli di daerahnya sendiri dan tidak bisa memegang jabatan-jabatan strategis di sebuah perusahaan. Proyek-proyek yang ada di Gresik kebanyakan pekerja kasarnya berasal dari Gresik sendiri. Dari sini kita bisa melihat bagaimana bisa Gresik menuju konteks KEMARTABATAN. Ketiga, dengan adanya julukan Gresik kota industri, yang mana banyak urbanisasi yang kebanyakan belum tahu kultur dan budaya Gresik, hingga banyak ruang-ruang yang bisa mempengaruhi kultur dan budaya Gresik sendiri yang katanya juga kota Santri. Mudah-mudahan dalam hal ini, Gresik menuju konteks KESALEHAN masih bisa dipertahankan.


Mardi Basuki 
Keempat, Pengamat ekonomi dan bisnis dari Universitas Gadjah Mada Mudrajad Kuncoro menyatakan bahwa usaha kecil menengah (UKM) Indonesia masih sulit berkembang akibat hambatan budaya (cultural barrier). "Mereka kebanyakan merasa cukup dengan kondisi saat ini," kata Mudrajad usai diskusi mengenai UKM di Yogyakarta.
Kebanyakan pelaku UKM merasa bahwa saat usaha mereka menjadi besar, maka tuntutan dan beban dan risiko yang harus ditanggung juga akan makin berat. "Karena kalau usahanya besar, mereka harus bayar pajak dan harus bayar buruh sesuai dengan upah minimum provinsi (UMP)," kata Mudrajad. Dalam hal ini pemerintah harus bisa menjembatani mereka agar produksi mereka mempunyai daya jual tinggi, dan tidak terlalu berat membebani mereka dengan birokrasi-birokrasi yang menurut mereka terlalu ruwet. Kalau ini para pemimpin-pemimpin kita tidak melek mata dan tuli telinga mereka, jangan harap Gresik menuju konteks KEMANDIRIAN bisa terwujud.


Ahmad Zaini Alawi 
@Mardi Basuki : ulasan sampeyan sangat relevan berdasarkan fakta-historis yang terjadi di kabupaten Gresik. Perubahan substansial sulit berkembang karena pemimpin daerah selama ini hanya berfikir pragmatis-fisikal berorientasi jk pendek. Konsep kerakyatan dalam rencana pembangunan menengah daerah sudah tercover sangat bagus, tetapi kontekstualisasinya irrelevan hingga sekarang. Pragmatisme yang berbasis kekuasaan mencengkeram pembangunan, hingga potensi yang dimiliki gresik mjd kurang diperhatikan. Konteks kerakyatan yang berbasis potensi lokal harus mulai dilakukan dgn kemauan yg kuat & tujuan yang mulia.

Benar apa kata sampeyan, setinggi apapun petumbuhan eknomi gresik dicapai dgn angka prosentase numerik tidak seiring dengan peningkatan SDM-nya, sehinga terjadi ruang kesenjangan dalam pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran meskipun berkurang dalam angka statistikal tetapi secara substansial kita lihat masih banyak pengangguran nyata. Saatnya keberpihakan pd peningkatan SDM lokal dilakukan khususnya dalam ranah kebijakan pendidikan, pelatihan dan entreprenerial usaha prospektif. Jika SDM hanya mengisi kerja pabrikal maka SDM kita menjadi SDM "tanggung" dengan ketergantungan hasrat hidup yang dangkal.

Inilah pentingnya kemartabatan, melihat masyarakat sebagai manusia dengan mmberikan ruang ekspresi kemanusiaan di segala bidang kehidupan. Konteks kemartabatan pun membutuhkan praksis keteladanan sikap dan realisasinya dalam kebijakan yang manusiawi...


Ahmad Zaini Alawi 
@Mardi Basuki : kesalehan ritual masih kental dalam kultur religi masyarakat Gresik. Kesalehan komunitas memang dilihat dari simbolitas sosio-religinya. Kultur santri ditengah dinamika industri berjalan berlawanan jika tanpa perhatian memberdayakan masyarakat dalam mempertahankan sosio-kulturnya. Kesalehan sosial bisa mempengaruhi dinamika industrial jika komunitas budaya agamis dijaga dengan basis kesadaran yg kuat. Tetapi ruang industrial-pabrikal yang pragmatis-material begitu kuat menarik dan menggeser kesalehan kultural masyarakat menjadi formalitas. Semakin mempertahankan kultur santri tanpa kesadaran semakin kuat formalitas kesalehan, sehingga lambat laun simbolitas-ritual sudah dianggap ukuran kesalehan.

Kesalehan juga bisa diterapkan scr vertikal (pemimpin) sbg bentuk praksis keteladanan. Keteladanan religius dalm bentuk aplikasi kebijakan bisa memperkuat kesalehan... Saya berharap, dgn kesalehan sosial inilah bisa mmerjelas identitas kultural masyarakat Gresik sabagai kota industri berbasis kesalehan....ibda' binafsika (mulai dari diri sendiri) adalah kunci hakekat kesalehan.. Syukur-syukur para pemimpin kita tetap ajeg dalam kesalehan personalnya..


Ahmad Zaini Alawi 
@Mardi Basuki : soal pengembangan UKM di Gresik, ada bebeapa faktor penghambat seperti :
1. Kebijakan yang masih belum memberi ruang gerak perkembangan UKM.
2. Mentalitas pelaku UKM yang belum siap berkarya produktif karena kebanyakan masih berfikir konsumtif. Lemahnya utilitas atau nilai tambah produksi tidak berkembang, statis itu-itu saja... Arena perdagangan diambil orang lain. Terkadang terbiasa berfikir "apa seharusnya" padahal ruang kreatifitas pasar berfikir " apa sebaiknya. Terkadang terlalu normatif, padahal pasar harus berfikir positif.
3. Akses modal sangat terbatas, padahal support modal sgt penting utk keberlanjutan produktifitas UKM.
4. Akses pemasaran juga sempit, maka pemerintah mmberi support "pasar" terhadap UKM.
5. Akses informasi dan manajemen masih tradisional
Banyak faktor yang menghambat, jika SDM hanya disalurkan pada pasar industrial-pabrikal, maka regenerasi UKM mengalami stagna...


Ahmad Zaini Alawi 
Apakah ada pembangunan ? Padahal pembangunan itu harus partisipatif dan transparan. Bedakan antara pembangunan & bangunan, program bangunan terus ditingkatkan, mulai dari planning, pelaksanaan, mandor & tukang, dlm program bangunan, kelengkapan itu bisa "pesanan"... Hahahha...


Davik Dengkul Kropos 
lebih_repot_lagi_jikalau_dalam_upaya_pembangunan_itu_ada_sekelumit_orang2_yg_bagian{pengentitan/penyelinteman}..?..?'he...


Ahmad Zaini Alawi 
@davik dengkul kropos : jika kita melihat pembangunan tanpa partisipasi, pembangunan tanpa transparansi, pmbangunan tanpa akuntabilitas, pembangunan yg hanya mengejar target prestis fisik, pembangunan yang tidak aspiratif, pembangunan yg diperuntukkan orang-orang dekat, pembangunan yang tidak berbasis kebutuhan masyarakat, pembangunan yang mengabaikan etika sosial, pembangunan yang dipaksakan menurut ambisi kekuasaan & penguasaan materi, pembangunan tanpa pengawasan ??.... Apa yg terjadi ???.. KEANGKUHAN KEBIJAKAN. Ruang pengentitan semakin terbuka, orang-orang yang dekat kekuasaan merajalela merambah segala proyektual...

Semua masyarakat semakin lama semakin "tahu", bagaimana "mereka" memainkan pembangunan... Maka orang yg tahu "pembangunan dan anggaran" harus berani menyampaikan kepada publik bahwa ada yang "salah" dalam pendekatan dan pelaksanaan pembangunan...


Ahmad Zaini Alawi 
Hampir tidak ada kebijakan yang tidak membingungkan rakyat kecil. Akan tetapi kita semua sebagai masyarakat harus terus sabar dan berdoa agar esok ada muncul salah satu pemimpin yang tegas, adil dan berpihak nyata kepada masyarakat terutama masyarakat kecil termasuk petani dan nelayan...

Kita harus berfikir sistemik, dan bukan parsial atau sektoral. Maka, semua jejang SKPD harus terbiasa berfikir tentang ancaman, tantangan, hambatan dan peluang. Selain itu harus berani berfikir dan bertindak OUT OF BOX. Hingga hari ini, tidak ada evaluasi kebijakan (masukan, proses, keluaran dan hasil manfaat) pembangunan. Kenapa terjadi kegagalan pembangunan atau eksklusifitas pembangunan ? Maka yg kita lihat dulu adalah kebijakannya terutama kebijakan yang pro rakyat... Jika kebijakan sudah tidak transparan dan tidak partisipatif maka bisa dilakukan penilaian bahwa kebijakannya sangat elitis tersebut sulit adanya jaminan benefitas sosial bagi rakyat.

Pembangunan (gresik) hrs diarahkan pd yg sifatnya mendasar, spt perikanan, pertambakan, pertanian dan potensi UKM yang besar. Tidak hanya terus memberi keterbukaan pada investasi industri-pabrikal dan pengobralan konversi lahan yg besar-besaran. Kesalahan yang terbesar adalah terletak pada formulasi kebijakan. Memang kepemimpinan daerah memegang peranan penting dalam mengelola daerah, tapi potensi yang dimiliki jangan dihilangkan. Semua belum terlambat masih ada kesempatan untuk meninjau kembali kebijakan yg kiranya belum relevan berpihak pada rakyat. Semua kembali pada masyarakat, mau apa tidak melakukan perubahan....


Ahmad Zaini Alawi 
Mana suaramu... !!!


Mardi Basuki 
dulu kita pernah berhasil dalam sektor pertanian sehingga bisa swasembada pangan. dari perkembangan sektor pertanian ini adalah Indonesia bisa mengubah status dirinya dari Negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi Negara pengekspor beras terbesar di dunia dan mencapai swasembada pangan pada tahun 1980-an. dari sini kita bisa melihat apakah ada yang salah dalam sistem regulasi beras pada saat sekarang,


Mardi Basuki 
cak aji Ahmad Zaini Alawi KAPITALIS dan SOSIALIS dalam pandangan Islam gimana???....


Ahmad Zaini Alawi 
@Mardi Basuki : Tes... Jawaban saya terhadap komentar mas Mardi tidak keluar padahal saya sudah menjawab sangat panjang dan runtut... Apakah sudah terbaca ?? Karena di BB saya tidak muncul


Mardi Basuki 
cak aji Ahmad Zaini Alawi sudah terbaca semua.......hehehe..... pembangunan sektor industri harusnya juga diimbangi pembangunan sektor pertanian, juga sektor-sektor lainya, betul yang sampeyan katakan, 3 sektor yang menjadi rebutan negara2 di dunia ini. Pertama : sektor pangan, kita negara agraris, kita pernah swasembada pangan, ini yang harus kita perbaiki lagi, kenapa kita tidak mau belajar pada pengalaman dulu, atau mungkin bangsa kita terlalu pintar hitung-hitunganan masalah ekonomi, sehingga melupakan sektor pangan yang sangat strategis. bangsa ini terlalu banyak ekonom-ekonom yang kapatalis, yang hanya bisa memberikan impian yang muluk-muluk, tapi tidak bisa membuat sejahtera terhadap masyarakat kecil. contoh: sekarang tiap rumah paling tidak mempunyai 1 motor dengan kredit, tapi apa mereka sudah bisa dikatakan makmur. Kedua: Sektor Energi, negara kita mempunyai sumber energi yang luar biasa banyak, tapi bangsa ini tidak bisa mengelola dengan baik, dengan kata lain sumber-sumber energi bangsa ini dikuasi oleh asing. ini menjadi persoalan kenapa bangsa ini hanya bisa menjadi sumber tapi tidak bisa memanfaatkannya. contoh: BBM naik yang berimbas pada kenaikan harga-harga lainnya. Ketiga sektor Air Bersi. Negara kita negara Maritim. kenapa bangsa ini tidak mau mengembangkan tekhnologi air laut dijadikan air bersih yang bisa dikonsumsi. Belum lagi bangsa ini mempunyai ber-ribu-ribu sungai, yang seharusnya bisa dimanfaatkan lebih baik. contoh : ketika bencana tsunami di aceh ada negara yang bisa membuat air laut menjadi air minum.


Ahmad Zaini Alawi 
@Mardi Basuki : untuk melakukan perubahan pembangunan harus merubah dulu paradigma pembangunan. Re-evaluasi pembangunan khususnya di kab Gresik sangat penting karena menyangkut eksistensi daerah secara jangka panjang, pembangunan tidak disekat oleh periodesasi rezim kekuasaan, karena pembangunan itu sebuah proses perubahan jk panjang. Inilah perlu kebesaran jiwa dan keluasan tujuan dengan visi-misi yang jelas dan nyata.

Masyarakat Gresik sekarang sudah bisa menilai dan mengukur benefitas (manfaat) pembangunan, banyak orang yang mengatakan bahwa pemkab Gresik hanya mengutamakan aras pembangunan fisikal berbasis anggaran besar, yang tidak menyentuh kebutuhan masyarakat. Saya heran secara kognitif tapi tidak heran secara politis, pembangunan fisikal berbasis anggaran besar selalu menyisakan masalah, kayak blangkon "mbendol mburi".. Hehehe...

Perencanaan dan penganggaran pembangunan membutuhkan kualitas kritik dan solutif anggota dewan sebagai gerbang masuk persetujuan kebijakan. Kualitas anggota dewan menjadi prasyarat dalam perubahan paradigma pembangunan. Itu baru pembicaraan sumbu horizontal kebijakan (eksekutif & legislatif), lebih sempurna lagi kalau disupport oleh masyarakat yang kritis salah satunya melakukan pilihan-pilihan politik yang cerdas.

Gresik berhias IMAN (Industri, Maritim, Agraris dan Niaga) menjadi adalah sektor-sektor yang nyata dan ada dalam potensi ekonomi Gresik, jika keempat sektor ini di singkronisasi saling menguatkan maka akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berdampak positive-impact dalam kesejahteraan masyarakat...
0 komentar


YANG TERKAIT

Suara Gresik | # - # | Mengembalikan Gresik sebagai kota santri, yang taat beribadah, rajin mengaji, dan pekerja keras, tak akan meninggalkan ajaran agama Islam

Didukung oleh : Afandi, Blogger, Tenda OK, GMP, Mode Ok-Rek, OmaSae, BerKADO, - Kurir SG -