Kyai Sindujoyo membuka lahan dengan membabat hutan bakau di desa KARANG PASUNG

Muhammad Samsul
KYAI SINDUJOYO MEMBANTU TENTARA AMPEL

Sebagai nelayan Kyai Sindujoyo tidak seperti nelayan umumnya dalam kerjanya. Beliau menarik seroh (sodoh) tak ubahnya seorang yang melaksanakan lelaku (tirakat). Pada bagian ujung sodoh (seroh)nya dibiarkan terbuka tidak diikat seperti nelayan umumnya sehingga ikan yang masuk diserohnya keluar lagi lewat ujung serohnya. Beliau hanya membawa ikan yang cukup untuk dikosumsi keluarganya selebihnya dilepas kembali.
Saat melaut ini beliau berkenalan dengan MERTOJOYO lelaki dari manukan yang sama sama mencari ikan. Beliau juga bagian dari pasukan AMPEL DENTO. Dalam melaksanakan lelaku dengan mendorong alat tangkap seroh Kyai Sindujoyo menemukan tempat yang sunyi dan cocok untuk beliau melaksanakan bertapa. Tempat tersebut ada di KALI TANGGOK. Di atas sebuah pohon di kali Tanggok inilah Kyai sindujoyo melakukan tapa selama tiga bulan.

Setelah usai melakukan tapa beliau terbangun dan heran melihat banyak armada laut yang melintas di kali Tanggok. Saat menghampiri armada inilah Kyai Sindujoyo bertemu kembali dengan MARTOJOYO. Dari Martojoyo inilah kyai Sindujoyo mengetahui, bahwa iring iringan armada laut ini adalah pasukan AMPEL DENTO yang akan berperang melawan pasukan GUMENO yang dipimpin KIDANG PALIH.
Perang di Gumeno ini telah menyebabkan kekalahan di pihak Ampel Dento. Pasukan yang dipimpin langsung oleh sang patih pulang dengan membawa kekalahan. Kekuatan kembali disusun lagi untuk menyerang Gumeno. Tapi lagi lagi pasukan Ampel Dento menelan kekalahan. Kekalahan demi kekalahan ampel Dento membuat murka Raja Ampel. Disusunlah kekuatan yang jauh lebih besar, tapi tak seorangpun berani menjadi panglima perang. Kemudian Martojoyo mengusulkan kepada sang Raja, agar Kyai Sindujoyo dari desa ROOMO agar diperkenankan untuk memimpin pasukan ampel dento. Usul itupun disetujui raja Ampel Dento. Dan Martojoyo diutus untuk memanggil Kyai Sindujoyo agar bersedia menghadap sang Raja.Setelah menghadap raja ampel Dento, Kyai Sindujoyo diajak ke gudang senjata, untuk memilih senjata yang cocok. Dipilihlah tombak yang paling jelek diantara ratusan tombak di gudang.

Dibawah pimpinan Kyai Sindujoyo ternyata ekspedisi ini berhasil merahi kemenangan dan Kyai Sindujoyo berhasil membunuh Kidang Palih. Mendengar Berita kekalahan pasukan Gumeno dan kematian Kidang Palih membuat istri Kidang Palih tidak terima. Beliau ingin membalas kematian suaminya kepada Kyai Sindujoyo. Dengan berdandan lelaki, istri Kidang Palih berkuda mengejar Kyai Sindujoyo. Pertarungan terjadi Istri Kidang Palih tewas dengan tikaman tombak tepat di dadanya. Begitu mengetahui yang terbunuh seorang wanita, Kyai sindujoyo amat menyesal dan meninggalkan medan perang tanpa pamit dengan pasukan yang dipimpinnya.

Seperti halnya di Surakarta, Kyai Sindujoyo menolak pemberian hadiah dari raja Ampel Dento. Ratusan kerbau itu diberikan pada Rakyat Gumeno, dan beliau memilih satu kerbau untuk dijadikan tempat bertapa. Dari kali Tanggok beliau masuk ke dalam kerbau selama empat puluh hari, dan sampailah bangkai kerbau tersebut di desa KARANG PASUNG sekarang jadi kelurahan KROMAN. Saat keluar dari kerbau Kyai Sindujoyo menjumpai anak buaya yang terjepit akar pohon bakau (Tanjang). Lalu buaya kecil itu diangkat dan dikembalikan ke laut. Dan Kyai Sindujoyo membuka lahan dengan membabat hutan bakau ini untuk membuat rumah yang baru di desa KARANG PASUNG.




Muhammad Samsul 
monggo cak Bagus Cahyono, pas jam 00:00 pesenane sampeyan tak marekno, monngo di wastani ha ha ha
mbok menowoh onok kurange monggo dolor dolor podo iso ngelengkapi.


Bagus Cahyono 
Terima kasih, Cak Muhammad Samsul. Kalau gak salah dari tewasnya istri Kidang Palih, Kyai Sindujoyo mengeluarkan "ular-ular"(seruan/pesan kepada anak-turun). Tapi saya lupa itu.


Edy Prianto 
Asal bukan Ular Kambang Cak Bagus Cahyono


Edy Prianto 
Pak Muhammad Samsul ikut menyimak karo doprok


Andy Buchory 
Muhammad Samsul boleh tahu sumbernya darimana mas??? Karena ceritanya agak berbeda dengan "Serat Sindujoyo" yang telah diterjemahkan teman saya... Kalau lebih direnungi lagi, ada suatu hal yang ironis akibat perseteruan Politik antara ampel Denta dan Gumeno. Dikisahkan bahwa Sunan Dalem mengungsi akibat Kerajaan Giri diserbu oleh Kadipaten Sengguruh... dan melarikan diri sampai Gumeno dan ditolong oleh Kidang Palih yang akhirnya menjadi muridnya.... dan Kidang Palih sendiri tewas oleh Kyai Sindujoyo yang sebenarnya murid dari Sunan Prapen putra dari Sunan Dalem. Antara Kidang Palih dan Kyai Sindujoyo sendiri sebelumnya belum pernah ada perselisihan.

Arif Gunawan 
Ikut menyimak...
Kadang kala banyak versi sejarah "cerita" yg kabur/miss link... Bagaimana kalau di babar satu persatu setiap versinya kemudian di tarik suatu pembelajaran sejarah... Tapi mungkin juga bth banyak waktu...


Muhammad Samsul 
Mas Andy Buchory saya nulis ini berdasar buku Serat Sindujoyo, juga terjemahannya dan nara sumbernya bapak Nur Ngaidi selaku pemilik copy dari buku tersebut. Sekilas kita cermati dalam terjemahan yg ditulis teman sampeyan tidak sedetil dengan aslinya dengan. Di terjemahan itu juga tidak muat tembang tembang ang ada di dalam buku tersebut. Penambahan alur cerita dalam penulisan ini berdasar pada tutur narasumber juga gambar-gambar yang merupakan gambaran situasi saat itu. Kalau sampeyan menghubungkan dengan SUNAN DALEM ini sudah tertinggal 2 periode, yaitu jaman pemerintahan Pangeran Sedah Ing Margi dan Sunan Prapen sendiri. Dadalam buku itu juga alasan Ampel Denta Menyerang Gumeno karena Kidang Palih tidak mau patuh dengan Sunan Ampel sepeninggalnya Sunan Prapen, Dan kidang Palih berusaha menyusun kekuatan pasukan dalam upaya meleppaskan diri dari Ampel Denta. Dan tulisan ini tidak jauh berbedah dengan apa yang telah ditulisteman sampeyan, saya hanya melengkapi berdasar nara sumber dan buku copynya. Monggo jika ada perbedaan kita bisa share koq.


Muhammad Samsul 
PAK Bagus Cahyono memang bener pak ular ular itu disampaikan Kyai Sindujoyo setelah mengetahui yg tewas itu seorang wanita. Atas dasar keberanian istri Kidang Palih inilah mewanti wanti agar keturunannya kelak tidak menikah dengan wanita asal Gumeno karena takut kalah dalam memimpin rumah tangga. Pak Edy prianto matur suwon saran dan dorongannya, sehingga tulisan ini bisa terwujud.Untuk mas Arief Gunawan, kalo cerita itu memang ada beberapa versi tergantung siapa nara sumbernya dan ini sudah wajar jika ada perbedaan. Lah disinilah kita dituntut untuk membedahnya dengan berbagai nara sumber yang ada. Tujuannya untuk mengerucutkan satu alur yang lebih baik. Lain kalo berita loh mas harus valid data datanya dan dijamin 100% kebenarannya. Monggo colek mas Andy Buchori.

Fatim Fitri Ndut 
Maturnuwun pak samsul ilmu e,tmbh mane ilmu kulo mengenai babad alas e gresik,,,,


Edy Prianto 
Pak Muhammad Samsul ini bukti bahwa teman-teman itu multi talent selain anggota KORNEL beliau juga suka S.Ag. Selain itu juga mampu menceritakan dengan apik sejarah Gresik ... yang mungkin cerita ini belum banyak tereskpos media lanjutkan ...


Edy Prianto Pak 
Muhammad Samsul ini bukti bahwa teman2 itu multi talent selain anggota KORNEL beliau juga suka S.Ag. Selain itu juga mampu menceritakan dengan apik sejarah Gresik ... yang mungkin cerita ini belum banyak tereskpos media lanjutkan ...

2 komentar


  1. masih penasaran dengan sejarah eyang saya sendiri! ada versi dari sesepuh klating kalau eyang terbunuh sebelum adanya perang! putra beliau lah yg membantu sunan prapen untuk membunuh kidang palih dgn cara masuk ke kebo mas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. :harap: mungkin Pean bisa melengkapi, dari kisah yang ditulis di atas.

      Hapus

YANG TERKAIT

Suara Gresik | # - # | Mengembalikan Gresik sebagai kota santri, yang taat beribadah, rajin mengaji, dan pekerja keras, tak akan meninggalkan ajaran agama Islam

Didukung oleh : Afandi, Blogger, Tenda OK, GMP, Mode Ok-Rek, OmaSae, BerKADO, - Kurir SG -