Dakwah memang merupakan sebuah hal yang tidak mudah dilakukan

Historiyono Kusdaryanto

KETIKA KAU LELAH SAUDARAKU

Tulisan ini saya buat lebih kepada cerminan diri saya sendiri. Saudaraku, bagaimana rasanya membawa beban yang jauh lebih berat daripada batu ribuan kilogram di pundakmu? Bagaimana rasanya berjalan di sepanjang jalan yang penuh dengan duri tanpa alas kaki? Seperti itulah rasanya diri saya saat ini. Lelah dan saya merasa tidak kuat lagi berada di jalan ini. Saya kembali mempertanyakan kesiapan dan kesediaan saya untuk mengambil jalan ini. Ya, jalan ini adalah jalan dakwah yang secara tidak sadar telah menjadi bagian dari diri saya sejak dulu. Namun, bukankah ketika sesuatu telah menjadi bagian dari diri, maka kita tidak akan merasa terbebani olehnya? Itu sendiri yang saya bingungkan. Apakah kesiapan saya dan kesediaan saya dulu hanyalah omong kosong?
Saat kita lelah saudaraku……

Dakwah memang merupakan sebuah hal yang tidak mudah dilakukan. Apalagi untuk saya yang tak pernah mempunyai pengetahuan agama setinggi para ustadz yang hafal Al-Quranul karim. Saya juga bukan mereka yang tak pernah berbuat sesuatu yang salah. Ketika mengingat hal itu, ingin rasanya diri ini mundur dan menyerahkan tanggung jawab ini kepada mereka yang jauh lebih kompeten. Ingin rasanya mundur dan hanya melihat bagaimana orang lain menjalankan dakwah.

Saat kita lelah saudaraku……
Bahkan api yang dulu ada dan membara di dalam diri saya kini telah meredup seiring berjalannya waktu. Saya merasa bahkan saya tidak mempunyai manfaat di jalan ini. Tidak ada progress yang terjadi di jalan ini, yang ada bahkan penurunan kuantitas dan kualitas keimanan serta ketaqwaan kepada-Nya. Berat sekali rasanya untuk melangkah dan berbuat sesuatu yang menjadi tugas saya. Sekali lagi saya bertanya pada diri saya, Apakah saya boleh mundur saja? Apakah saya boleh berhenti?

Tapi hati kecil saya berkata:

“JIKA BUKAN KAU SIAPA LAGI YANG AKAN MENEGAKKAN AGAMAMU? TAK MALUKAH ENGKAU DENGAN PANUTANMU, NABI MUHAMMAD SAW? KALAU BUKAN KAMU, SIAPA YANG AKAN MEMASTIKAN SAUDARA-SAUDARAMU DI JALAN YANG BENAR?”

Yah, kata-kata itu menjadi tamparan yang sangat keras bagi wajah saya, kalau semua muslim berpikiran sama dengan saya bahwa akan ada seseorang lain yang lebih pantas dan hanya berdiam diri menyerahkan kepada saudara yang lain, maka hancurlah agama ini. Siapa lagi yang akan mempertahankan agama ini? Siapa lagi yang akan memastikan semuanya berjalan sesuai Al-Quran dan Al-Hadist?

Di saat itulah aku mengerti, sumber kejenuhanku di jalan ini adalah aku terlalu memaksa diriku untuk mengikuti cara yang aku tidak begitu suka. Aku harus mencari cara dakwah yang sesuai dengan diriku. Aku memang tidak terlalu suka dengan dakwah secara langsung dan berbicara di depan umum, karena kelemahan terbesarku adalah kepercayaan diriku yang sangat kurang. Tetapi aku sadar aku punya kekuatan dan kesenangan lain di bidang tulisan dan persuasi rangkaian kata dalam kalimat. Harusnya itu yang aku sadari dari dulu.

Betapa menyenangkannya berdakwah dengan cara kita sendiri. Kalian tak perlu menjadi pembicara yang sangat handal untuk menjadi seorang pendakwah, yang kalian butuhkan hanyalah keinginan untuk menyalurkan dakwah dimanapun dan kapanpun menggunakan cara yang kamu sukai. Tak peduli itu tulisan, puisi, atau bahkan lagu. Semuanya bisa dilakukan, karena pada dasarnya darah pendakwah itu ada di dalam diri kita semua. Jalan dakwah adalah jalan yang tak pernah surut dan masih panjang untuk harus kita lalui. Jalan dakwah yang sudah seharusnya menjadi kewajiban kita semua agar agama islam menjadi agama yang selalu hidup dalam diri dan jiwa para pemeluknya.

Tak perlulah engkau menjadi seorang orator ataupun mempunyai jabatan yang tinggi untuk berdakwah. Tak perlulah engkau harus menuntut ilmu di Mesir atau Makkah untuk menjadi seorang pendakwah. Tak perlulah engkau harus membuat pondok pesantren dulu untuk menjadi pen-dakwah. Karena harusnya dakwah menjadi hal yang bisa dimulai saat ini, dengan cara yang kalian suka bahkan hanya dengan lewat tulisan.

Maka saat kita lelah saudaraku……..
Yang kita butuhkan adalah niat yang baru dan hati yang ikhlas untuk memikul tanggung jawab ini dan menjalankannya dengan cara yang kita sukai serta menjalankannya tanpa beban sehingga dakwah menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk kita jalankan bersama-sama…… (Salam Tuk Saudara-saudaraku di Suara Gresik)
0 komentar


YANG TERKAIT

Suara Gresik | # - # | Mengembalikan Gresik sebagai kota santri, yang taat beribadah, rajin mengaji, dan pekerja keras, tak akan meninggalkan ajaran agama Islam

Didukung oleh : Afandi, Blogger, Tenda OK, GMP, Mode Ok-Rek, OmaSae, BerKADO, - Kurir SG -