Makam Siti Fatimah Binti Maimun

Jumat, 29/03/2013 07:38
Mengunjungi Makam Siti Fatimah Binti Maimun

dicopy dari Gresik, NU Online
Makam Siti Fatimah Binti Maimun terletak di desa Leran kecamatan Manyar atau sekitar 7 km sebelah utara kota Gresik.

Tidaklah susah untuk menemukan desa Leran. Desa tersebut terletak di tepi jalan Daendels (jalan yang memanjang dari ujung timur-ujung barat pulau Jawa) yang menghubungkan Gresik-Lamongan-Tuban. Selain itu, desa Leran juga berada tidak jauh dari gerbang Tol Manyar yang menghubungkan Gresik dengan Surabaya dan Sidoarjo.

Desa Leran merupakan daerah pesisir utara pulau Jawa dan menjadi tempat yang pertama dituju Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Siti Fatimah Binti Maimun saat tiba di tanah Jawa. Di daerah tersebut, terdapat sebuah masjid yang didirikan Syekh Maulana Malik Ibrahim saat pertama kali menyebarkan Islam di tanah Jawa. Adanya sisa-sisa kehidupan bandar adalah bukti bahwa dulunya desa tersebut kota bandar besar.

Selain dikenal sebagai kawasan industri, kecamatan Manyar juga dikenal sebagai kawasan santri. Masyarakat Manyar dikenal begitu kuat dengan tradisi Islamnya. Ditambah lagi,  banyaknya pesantren yang berdiri di kecamatan tersebut semakin menguatkan kesan kecamatan Manyar sebagai kawasan santri. Salah satu pondok yang berdiri disana adalah PP Mambaus Sholihin Suci yang diasuh oleh KH Masbukhin Faqih.

Makam Siti Fatimah terletak di dalam sebuah cungkup persegi dengan luas 4x6 M dan tinggi 16 M. Cungkup tersebut berbahan batu kapur yang diambil dari gunung Suci, Manyar. Berbeda dengan bangunan makam wali pada umumnya, cungkup makam Siti Fatimah Binti Maimun menyerupai sebuah candi pada masa Hindu-Budha. Konon, cungkup itu dibangun oleh seorang raja Budha yang hendak mempersunting Siti Fatimah.

Selain makam Siti Fatimah Binti Maimun, didalam cungkup tersebut juga terdapat makam 4 dayangnya, yakni Putri Seruni, Putri Keling, Putri Kucing, dan Putri Kamboja. Sedangkan di luar cungkup, terdapat beberapa makam kerabat Siti Fatimah yang konon turut mengantar Siti Fatimah menyebarkan Islam di tanah Jawa. Menariknya, diantara banyak makam tersebut, terdapat 8 makam panjang yang menyita perhatian banyak orang. Makam panjang tersebut terdiri dari 6 makam panjang berukuran 9 meter dan 2 makam panjang berukuran 6 meter. Pemilik dari 8 makam panjang tersebut adalah Sayid Jafar, Sayid Harim, Sayid Syarif (ketiganya paman Siti Fatimah), Sayid Jalal, Sayid Jamal, Sayid Jamaluddin, Raden Ahmad, dan Raden Said.

Selain itu, tedapat pula beberapa makam warga sekitar. Konon, dulunya area makam Siti Fatimah Binti Maimun merupakan tempat pemakaman umum. Tetapi, semejak tahun 70-an atau saat Makam Siti Fatimah Binti Maimun diambil alih Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur, area makam tersebut tidak lagi dibolehkan menjadi pemakaman umum.

Sejarah Siti Fatimah Binti Maimun

Menurut H Hasyim Ali, juru kunci makam, Siti Fatimah atau dikenal dengan sebutan Putri Retno Suwari lahir di Malaka pada tahun 1064 Masehi. Ayahnya bernama Maimun (bergelar Sultan Mahmud Syah Alam) berasal dari Iran. Sedangkan ibunya bernama Siti Aminah berasal dari Aceh. Maimun sendiri merupakan sepupu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) sehingga Siti Fatimah Binti maimun merupakan keponakan dari Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Konon, Siti Fatimah datang ke Jawa atas perintah Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa. Menurut H. Hasyim Ali, juru kunci makam, bukan Siti Fatimah yang datang terlebih dulu ke Jawa, melainkan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Syekh Maulana Malik menginjakkan kaki di tanah Jawa sekitar tahun 1079-1080, sedangkan Siti Fatimah menyusul kemudian pada tahun 1081. Saat datang ke tanah Jawa, Siti Fatimah Binti Maimun masih berusia 17 tahun.

Kedatangan Siti Fatimah sendiri dimaksudkan untuk menyebarkan agama Islam lewat jalur perkawinan. Kala itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim berniat mengawinkan Siti Fatimah dengan seorang raja Budha. Karna pada awalnya Syekh Maulana Malik mengalami kesulitan untuk menyebarkan Islam di tengah masyarakat yang masih kuat dipengaruhi Hindu-Budha. Siti Fatimah datang ke Jawa tidak sendiri. Ia ditemani ayah, ibu, beserta  rombongan yang terdiri dari kerabat dan pengikut Maimun atau Sultan Mahmud Syah Alam.

Hanya saja, sebelum misi tersebut terlaksana, Siti Fatimah terlebih dulu wafat akibat wabah penyakit yang menyerang daerah Leran dan sekitarnya kala itu. Siti Fatimah wafat pada 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M) atau saat masih beusia 18 tahun. Beserta 4 dayangnya, Siti Fatimah wafat saat masih perawan.

Kondisi Makam

Tanggal 15 Syawwal atau 15 hari setelah hari raya ditetapkan sebagai haul Siti Fatimah Binti maimun.  Tanggal itu diambil dari ditemukannya makam tersebut. Menurut H Hasyim Ali, makam Siti Fatimah Binti Maimun baru ditemukan 4 Abad setelah tahun wafatnya.

“Jadi, (haul Siti Fatimah) bukan tanggal wafatnya, tapi tanggal ditemukannya,” tutur  H Hasyim Ali

Juru kunci makam yang pertama bernama Mbah Legi. Ia menjadi juru kunci makam sekitar abad 16-an. Juru kunci makam dijabat secara turun-temurun. Juru kunci saat ini, H Hasyim Ali, merupakan keturunan ke-7 dari juru kunci yang pertama.

Saat ini, makam Siti Fatimah Binti Maimun berada dibawah perlindungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur yang berkantor di Trowulan, Mojokerto. Keadaan makam sendiri bisa dibilang cukup terawat. Selain kebersihan area makam yang terjaga, keaslian bangunan makam juga benar-benar diperhatikan. Bahkan, H Hasyim Ali sangat berterima kasih atas kepedulian BP3 terhadap perawatan makam selama ini.

Di akhir cerita, H Hasyim Ali berpesan kepada masyarakat untuk meneladani perjuangan para pendahulu yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Menurutnya, keikhlasan Siti Fatimah Binti Maimun menyediakan dirinya untuk dinikahkan dengan raja Budha demi tersebarnya agama Islam sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa kala itu. Hingga tak lama kemudian, wabah penyakit pun datang dan akhirnya Siti Fatimah Binti Maimun meninggal dunia.

“Pengabdiannya kepada agama harus kita teladani,” tutur H Hasyim Ali menutup ceritanya.


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Ahmad Faiz

Tulisan disalin dari
www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,43398-lang,id-c,daerah-t,Mengunjungi+Makam+Siti+Fatimah+Binti+Maimun-.phpx

Foto-foto oleh Afandi

0 komentar


YANG TERKAIT

Suara Gresik | # - # | Mengembalikan Gresik sebagai kota santri, yang taat beribadah, rajin mengaji, dan pekerja keras, tak akan meninggalkan ajaran agama Islam

Didukung oleh : Afandi, Blogger, Tenda OK, GMP, Mode Ok-Rek, OmaSae, BerKADO, - Kurir SG -